Selasa, 21 Februari 2012

Pendahuluan Teologi Biblika PB


A. Defenisi 

Teologi Biblika merupakan cabang ilmu Teologia yang secara sistematis mempelajari perkembangan pernyataan Allah dalam sejarah sebagaimana yang dinyatakan Alkitab.
Teologi PB difokuskan kepada tulisan-tulisan PB. Namun sekalipun demikian tulisan PB tidak terlepas dari kaitan dengan tulisan-tulisan lainnya di dalam PL. Sebab secara sepintas tulisan PB memperlihatkan adanya kaitan yang erat antara PL dan PB. PB tidak mungkin dimengerti dengan benar apabila mengabaikan PL. Banyaknya kutipan PL dalam PB menunjukkan betapa besarnya arti dari kesinambungan yang menghubungkan zaman kekristenan dengan zaman PL. tema janji dan penggenapannya menjalin hubungan diantara keduanya, bahkan Kitab Suci yang dipakai oleh jemaat mula-mula adalah PL. ini meunjukkan bahwa pengkotbah mula-mula menyampaikan penguraian mereka berdasarkan PL. dan sekalipun kutipan-kutipan PL itu penting namun ianya bukan merupakan kontribusi utama dari dari penelitian PL untuk teologi PB, yang lebih penting ialah pengaruh PL yang mewarnai gagasan-gagasan, yang diambil alih serta diberi makna yang baru olah penulis-penulis PB, dengan memahami Pl maka kita akan semakin memahami makna yang ada dalam teologi PB.

Beberapa unsur penting yang berkaitan dengan defenisi Teologi Biblika :
  1. Sistematisasi; teologi biblika meskipun direpresentasikan secara sistematis, namun berbeda dengan teologi sistematik. Teologi sistematik mengasimilasikan kebenaran dari seluruh Alkitab dan dari luar kitab suci, dalam proses mensistemasikan doktrin2 Alkitab. Teologi biblika lebih sempit. Lebih terfokus pada pada periode sejarah yang dinyatakan atau pengajaran eksplisit tertentu dari penulis Alkitab. 
  2. Sejarah; Teologi Biblika menaruh perhatian pada peristiwa penting yang dinyatakan dalam sejarah doktrin2 Alkitab. Wahyu, situasi dan kondisi penulis serta pembaca? Hal-hal itu akan pertanyaan-pertanyaan yang penting yang akan menolong untuk menemukan penekanan doctrinal tertentu dari periode tertentu dan penulis tertentu. Dan dalam teologi PB, tidak mungkin untuk menelaah secara mendalam, tanpa memperhatikan hal-hal yang diatas yang memiliki pengaruh yang besar. 
  3. Progres dari wahyu; Teologi Biblika menelusuri wahyu yang progresif itu dan melihta bagaimana Allah menyatakan diriNya dalam era tertentu itu atau penulis tertentu. 
  4. Natur yang Alkitabiah; Teologi Biblika hanya mengambil nature dari Alkitab, jadi nature teologi biblika adalah eksegetikal yaitu mempelajari doktin2 dari berbagai periode sejarah atau mempelajari kata-kata dan pernyataan-pernyataan dari penulis2 tertentu.

B. Hubungan dengan displin ilmu lain:
  1. Studi eksegetikal; Teologi biblika memiliki hubungan langsung dengan eksegesis (menjelaskan/menafsirkan). Dapat dikatakan bahwa teologi merupakan hasil dari eksegesis. Eksegesis berdasar pada teologi biblika. Eksegesis bertugas untuk menganalisa teks alkitab menurut metode Literal gramatikal.historical. 
  2. Studi latar belakang penulisan; latar belakang penulisan menentukan isu-isu seprti penulis, tanggal penulisan, tujuan penulisan dan situasi kondisi. 
  3. Studi teologi sistematik; ada persamaan dan perbedaan antara teologi biblika dan sistematik. Keduanya berakar dari analisa kitab suci, namun demikian teologi sistematik juga berusaha mendapatkan kebenaran dari sumber2 diluar Alkitab.. perbedaan yang dapat dilihat dari kedua teologi ini adalah: (1) TB merupakan awal dari TS; eksegesis memimpin kepada teologi biblika yang kemudian memimpin kepada teologi sistematik (2) TB berusaha untuk menentukan apa yg dimaksudkan oleh penulis Alkitab berkaitan dengan isu2 teologi, sedangkan teologi sistematik menjelaskan mengapa sesuatu itu benar dengan menambahkan pandangan secara filosofi (3) Teologi Biblika memberikan pandangan penulis Alkitab, sedangkan teologi sistematik memberikan diskusi doctrinal dari sudut pandang masa kini. (4) TB menganalisa materi dari penulis tertentu atau dari periode sejarah tertentu, sedangkan teologi sistematik meneliti semua materi baik dari Alkitab maupun dari luar Alkitab yang berkaitan dengan doktrin tertentu.

Kontras antara Teologi Biblika dan Teologi Sistematika

Teologi Biblika
Teologi Sistematika
Membatasi studinya hanya pada kitab suci
Mencari kebenaran dari Kitab Suci dan sumber lain di luar Alkitab
Mempelajari bagian-bagian dari Kitab suci
Mempelajari keseluruhan Kitab Suci
Menyusun suatu informasi tentang suatu doktrin dari satu penulis tertentu atau era tertentu
Menyusun suatu informasi tentang suatu doktrin dengan mengkorelasikan semua Kitab Suci
Berusaha untuk mengerti mengapa atau bagaimana suatu doktrin berkembang
Berusaha untuk mengerti apa yang tertulis pada akhirnya
Berusaha untuk mengerti proses dan hasil dari produk itu
Berusaha untuk mengerti hasil produk itu
Melihat progress dari wahyu dalam era yang berbeda
Melihat kulminasi dari wahyu Allah


C. Metodologi
  
Oleh karena penulisan kitab-kitab PB kemungkinannya ditulis dalam kurun waktu 50 tahun, maka teologi biblika PB harus memperlihatkan sudut pandang penulis PB yang berbeda. Kadi, teologi biblika PB dipelajari berdasarkan teologi Paulus, Teologi Petrus, Teologi Yohanes, dan seterusnya. Studi ini mengevaluasi doktrin khusus apakah yang ditekankan oleh penulis-penulis PB dan bagaimana mereka mengembangkannya.

D. Kepentingan Teologi Biblika
    1. Memperlihatkan Perkembangan sejarah Doktrin; TB penting dalam pencegahan mempelajarai doktrin terlepas dari konteks sejarahnya. 
    2. Memperlihatkan Penekanan dari penulis; TB menyatakan pengajaran doctrinal dari penulis tertentu atau selama periode tertentu. Dalam pengertian tersebut, teologi biblika mensistematiskan kitab suci berdasarkan penulis atau periode tertentu. 
    3. Memperlihatkan unsur manusiawi dari inspirasi; TB menekankan factor manusiawi dalam penulisan Kitab suci (namun tidak mengabaikan inspirasi). Ia menunjukkan latar belakang individu, interes dan gaya dari penulis2. TB menekankan bahwa para penulislah yang telah menyususn firman Tuhan, dan tentu saja, menyusun dan menulisnya di bawah pengawasan ilahi

Pribadi Seorang Pengkotbah

A. Hal-hal praktis tentang pribadi pengkhotbah

Seperti sudah dikatakan, setiap pengkotbah haruslah sadar bahwa alamat pertama dari kotbahnya adalah dirinya sendiri. Dialah yang pertama menerima Firman Allah itu, kemudian si pengkotbah Allah menyampaikannya kepada orang lain. Karena  itu yang pertama mengamalkan isi kotbahnya adalah seorang pengkotbah itu sendiri.  Kalau tidak demikian, kotbahnya  ibarat nasihat-nasihat kering yang sekejab akan lenyap dari hati pendengar.  Paulus sungguh-sungguh menyadari hal itu,maka dia bergumul:  “Tetapi kau melatuh tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan  Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.”  ( I Korintus 9:27)   Dari Paulus dan pengkotbah-pengkotbah terkenal, kita memperoleh tuntunan hidup, bagaimana pengkotbah itu hidup sehari-hari di dunia ini

1. Hidup dalam doa.

Pengkotbah harus hidup dalam doa.  Hidup dalam doa ialah hidup hidup dalampenyerahan diri yang terus menerus secara  total kepada Allah.  Dengan kotbah kita mau memberitakan kebenaran Allah kepada orang lain.  Lalu bagaimana mungkin kita memberitakan kebenaran itu kepada orang lain tanpa penyerahan diri kepada sang kebenaran itu.  Paulus menasihatkan:  “Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang kudus, juga untuk aku, supaya kepadaku jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, yang kulayani sebagai utusan uyang dipenjarakan.  Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara” (Efesus 6:18-20). Paulus menganjurkan agar jemaat Efesus itu berdoa terus bukan saja untuk kepentingan mereka sendiri, tetapi juga untuk pemberitaan rahasia injil itu.

Charles Spurgeon (Pendeta Gereja Baptis Inggris) mengatakan: “Seharusnya seorang pendeta dan pengkotbah lebih dari dari semua orang lain, dikenal sebagai seorang  yang berdoa.”  Sifat doa kita akan menentukan sifat kotbah kita. Dia berkata lagi, “Doa yang lemah akan menghasilkan kotbah yang lemah, Doa yang sungguh-sungguh akan menghasilkan kotbah yangberkuasa.”

Martin Luther menganggap doa itu sebagai “nafas”.  Nafas adalah unsur yang menghidupkan. Demikian juga doa adalah tenaga hidup bagaikan api yang menyala mestinya mesin uap sehingga timbul tenaga gerak. Luther pernah berkata: “aku akan sangat sibuk hari ini, jadi aku harus memulainya dengan berdoa selama tiga jam.”  Jelas, bagi   dia doa adalah prioritas utama dalam hidup.

2. Pergaulan luas.

Pengkotbah harus bisa menyesuaikan diri kepada semua lapisan manusia. Seorang pengkotbah harus menganggap  semua manusia sama-sama berdosa di hadirat Allah dan membutuhkan keampunan dosa.  Paulus mengatakan: “Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi…”  (I Korintus 9:20-22).  Seorang pengkotbah harus mempunyai solidaritas yang tinggi.  Dia tidak merasa tinggi hati menghadapi orang yang lemah dan hina-dina.  Dan tidak merasa minder di hadapan orang-orang terhormat dan orang-orang besar. Dan sikap yang seperti ini bisa lahir dalam hidup pengkotbah bilamana ia senantiasa dekat kepada Allah. Harus  diingat bahwa Firman Allah ini ditujukan selain kepada diri pengkotbah sendiri juga kepada semua orang tanpa kecuali. Baik dia kaya atau miskin, berpendidikan atau tidak, pejabat atau rakyat biasa, merekalah alamat Firman Tuhan

3. Komunikatif (Ciptakanlah suasana akrab)

Pengkotbah harus mampu memandang sebagai satu kesatuan. Peranan sorotan mata, amat penting. Tidak boleh memandang ke bawah seakan-akan membaca atau memandang ke atas karena tidak tahan menghadapi pendengar, baik yang duduk di sebelah muka, belakang, samping kiri, kanan, agar mereka semua  juga merasa dekat dengan kita.

4. Bahasa  khotbah

Bahasa dalam khotbah haruslah bahasa yang dimengerti oleh pendengar. Bahasa ibu adalah sarana khotbah yang paling mantap. Kalau terpaksa menggunakan bahasa asing jelskan artinya.  Kalimat-kalimat pendek tajam jauh lebih efektif dibanding kalimat panjang berbelit-belit. Kalau bisa, pergunakanlah bahasa-bahasa ilustratif yang dapat meninggalkan bekas bagi para pendengar. Yesus juga sering menggunakan cara itu.  Umpamanya Dia berkata:  “Dia adalah pokok anggur dan kita adalah carang-carangNya”  

5. Bahasa tubuh

Waktu berkotbah, bukan hanya suara yang memegang peranan.  Tetapi wajah juga turut. Demikian juga gerakan tangan/cukup menolong untuk menekankan sesuatu melalui kotbah.  Tetapi kesemuanya itu harus terkendali. Jangan karena menggunakan gerak, akhirnya kita seperti menari-nari dalam mimbar.  Dan jangan pula badan kita kaku seperti patung.       

6. Intonasi suara     

Kita harus menghindarkan suara yang monotone.  Yang membuat pendengar dan ngantuk.  Tinggi rendahnya suara, cepat lambatnya bahasa harus dikuasai.  Kadang-kadang pengkotbah boleh seperti membentak, dan kadang-kadang dapat seperti berbisik. Semua itu akan menciptakan suasana asyik dan serius mendengarkan. 

7. Wawasan luas (rajin baca)

Pengkotbah harus rajin membaca.  Membaca berarti belajar.  Belajar tidak harus melalui jenjang pendidikan formal.  Membaca adalah cara untuk meningkatkan pengetahuan. Paulus adalah seorang yang rajin membaca. Kita dapat melihat dalam II Timotius 4:13 Paulus merindukan buku-buku bacaannya . Dia pesankan kepada teman sekerjanya Timotius: “jika engkau kemari bawa juga  jubah yang kau tinggalkan di Troas di rumah Karpus dan juga kitab-kitabku, terutama perkemen itu.”    John Wesley Bapak Gereja Metodist Indonesia sebelum mengangkat para pengkotbah awam untuk membantu pekerjaannya terlebih dahulu menanyakan


B.  Syarat - Syarat Yang Harus Dimiliki Si Pengkhotbah:
    1. Tulus: tulus dalam persekutuan dengan Tuhan, tulus dalam hal berdoa dan membaca Alkitab, tulus dalam hal menurut pimpinan dan kenyataan Ilahi, tulus dalam berkhotbah.
    2. Lurus: tidak bengkok. Lurus dalam menguraikan tujuan ayat mas, lurus mengikuti bab dan bagian - bagiannya, lurus dalam menyusun cerita.
    3. Bagus: jelas dan lancar. Percakapannya bagus, bagus isinya, bagus susunannya, bagus perbandingannya, dan bagus kesimpulannya Nyata: tidak fiksi, tidak dibuat-buat, bukan bualan (kesombongan), tidak boleh melakukan kemunafikan (tipuan).
    4. Berkuasa mengubah (transforming power): mengena dihati dan akal budi, transformasi karakter dan perilaku, terjadinya perubahan kehidupan rohani (Roma 12:1-2). Perilaku orang percaya diubah melalui proses pengajaran dan pemuridan.
    5. Dinamika (kepekaan menangkap apa yang Tuhan mau katakan pada saat itu).
    6. Bermutu: tidak asal comot, tidak meniru / plagiator khotbahnya pendeta lain.
    7. Struktur: memiliki alur cerita yang jelas, kutipan yang jelas.
    8. Mendalam: menggali dengan eksposisi yang benar dan berguna. 
    9. Rajin dan Tekun: pengertian yang tepat aka nisi Alkiab tidak terjadi secara otomatis tanpa usaha, untuk itu diperlukan kerajinan dan ketekunan dalam mempelajari Alkitab.
    10. Variatif: menyajikan dengan beragam variasi sesuai dengan tema, suasan dan tempat. 
    11. Inspirational: memberi inspirasi dan terobosan baru.
    12. Dialogis: panggilan dan tanggapan.
    13. Bersungguh-sungguh: sanggup dipertanggung-jawabkan secara teologis,dengan segala implikasi teologis didalamnya.
    14. Disiplin Mempelajari Firman Tuhan: secara komprehensif dan progresif (terus menerus). 
    15. Mempersiapkan Khotbah Sendiri: bisa original (karangan sendiri) atau menggunakan metode ATM (Amati –Tiru - Modifikasi). 
    16. Menyampaikan Khotbah Dengan Kasih, belas kasihan dan Kuasa Roh Kudus. 
    17. Khotbah dengan otoritas, antusias dan bukan arogan (kesombongan). 
    18. Melodramatis: berkhotbah adalah sebuah seni yang bisa mencakup sandiwara. Memasukan unsur emosional (mendramatisir). 
    19. Kesediaan untuk dinilai dan direspon oleh jemaat: bermutu atau lemah. 
    20. Mencatat Khotbah yang akan disampaikan: untuk pertanggungjawaban dan dokumentasi. 
    21. Review (pelajari /diulang kembali) secara teratur apa yang sudah dikhotbahkan: untuk mengevaluasi dan mempelajari lebih mendalam lagi, menyempurnakan bahan yang dipakai. 
    22. Efektif dan efisien (menyampaikan point yang penting saja dan penggunaan waktu). 
    23. Gunakan alat bantu: Chart/ alat peraga, Slide OHP; ilustrasi,Visual. 
    24. Melakukan inovasi: berani mencoba yang baru, tehnik pendekatan / penyampaian. 
    25. Mengembangkan dan melatih karunia: untuk membangun dan membawa orang – orang kepada kedewasaan dalam Kristus. 
    26. Optimis / Positif: berpikir positif, memiliki paradigma baru, perspektif yang holistic. 
    27. Senantiasa Perhatikan kelompok pendengar yang hadir:
      • Orang yang belum percaya (Sarkikos) – I Kor 3:1, 3. 
      • Kristen baby/ masih kanak-kanak – mencari susu bukan makanan keras. 
      • Kristen Carnal (bersifat kedagingan) – (psikhikos / natural) I Kor.2:14. 
      • Kristen dewasa / matang / Manusia rohani (pneumatikos) sudah terlatih panca inderanya dan membutuhkan makanan keras bukan susu lagi – (I Kor.2:15).

 C.  Penampilan / Busana Pengkhotbah
    • Berpakaian layaknya seorang pengkhotbah. Ingatlah, selama setengah jam atau kurang lebih semua pandangan  pendengar tertuju kepada pengkotbah.  Sudah pasti pandangan mereka bukan saja tertuju ke wajah, tetapi juga kepada pakaian.  Oleh sebab itu, pakailah yang rapi, sederhana tanpa  berlebih-lebihan.  Artinya, pakaian juga sudah disalibkan seperti hati dan pikiran kita. Hingga semua penampilan kita akan menjadi pujian bagi Allah semata. 
    • Tidak norak (berlebihan dan nyentrik). Sebaiknya pilihlah pakaian yang sesuai atasan-bawahan, dasi, sepatu, dll. Warna pakaian harus dipadukan secara harmoni. 
    • Maaf, jika BB tergolong tajam pergunakan deodorant saat bertugas, atau carilah cara mengatasi masalah tersebut. 
    • Jika membawa sapu tangan dan menyeka wajah, gunakanlah tangan kiri anda. Atau jika bersin/flu. 
    • Hindari kebiasaan gaya buruk pengkotbah:
        • Persiapan mendadak, sehingga kondisi tubuh tidak fit. 
        • Berkotbah karena kepentingan. 
        • Menyandarkan tubuh pada mimbar. 
        • Menundukkan kepada, menyatakan ketakutan dan ketegangannya. 
        • Bertolak pinggang atau memasukan kedua tangan ke saku celana. 
        • Pandangan mata terus ke atas, seolah-olah tidak meihat ada orang di depannya. 
        • Kedua kaki terbuka lebar. 
        • Tubuh digoyang ke kiri dan ke kanan tanpa irama yang jelas. 
        • Berdiri kaku dan tidak alamiah. Akibatnya tidak dapat berbicara dengan lugas. 
        • Merendahkan orang lain, suku, agama, lembaga, organisasi, kelompok masyarakat tertentu dengan menyebut identitas obyeknya (contoh: pak Joko, FPI, Islam, dayak) . Pakailah istilah umum misalnya: “seorang bapak”, “agama tertentu”, dll.
        •  Terjebak ke dalam gosip atau curhat colongan. Misalkan pengkotbah curhat tentang pergumulan keuangannya.
    •     Waspadalah terhadap:
      • motivasi yang salah (sekedar mengejar popularitas, komoditi “Amplop”) 
      • kemunafikan yang terselubung (membual, apa yang dikatakan tidak sama dengan apa yang ia perbuat).  
      • kepalsuan yang lembut(kurang berani menyampaikan kebenaran dengan tegas).
(>YB<)

Senin, 20 Februari 2012

APA ITU TEOLOGI ?


Kata Teologi sudah tidak asing lagi di telinga kita orang-orang Kristen, entah dimengerti atau sekedar ucapan belaka. Saya ingin memberi pengertian singkat bagi pembaca, yang saya rasa mudah dimengerti oleh pembaca awam atau pengkaji teologi dalam kekristenan.

Arti etimologis (asal kata). Istilah "Teologia" berasal dari 2 kata Yunani, yaitu: theos artinya "Allah"; dan logos artinya "perkataan, uraian, pikiran, ilmu". Sedangkan "Sistematika" berasal dari kata sustematikos, artinya penempatan/ penyusunan secara tepat. Jadi teologi dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang menguraikan tentang Tuhan dengan cara yang sistematis, sehingga semua pembaca dapat mengerti. Jadi jika pembaca kurang paham dengan apa yang diuraikan oleh Teologi, itu berarti penyampaiannya kurang sistematis.
Definisi Istilah "Teologia" dapat dimengerti dalam arti sempit atau arti luas. Arti luas: mencakup seluruh pokok studi (disiplin ilmu) dalam pendidikan teologia. Arti sempit: usaha meneliti iman Kristen dari aspek doktrinnya saja yang sering disebut sebagai Teologia Sistematika. 

Definisi umum: Teologia ialah pengetahuan yang rasional tentang Allah dan hubungannya dengan karya/ciptaan-Nya seperti yang dipaparkan oleh Alkitab. Definisi khusus: Teologia Sistematika ialah bagian dari divisi Teologia. yang mengatur secara terperinci dan berurutan tema-tema dari ajaran doktrin dalam Alkitab.

Pengertian Teologia sebagai Ilmu Teologia meskipun tidak memiliki fakta-fakta yang dapat diukur secara empiris (seperti ilmu-ilmu modern sekarang ini) tetap dapat disebut sebagai ilmu karena, sesuai dengan salah satu definisi "ilmu", teologia adalah suatu usaha untuk memberikan penjelasan tentang Allah, yang diperoleh dari Alkitab (sebagai penyataan Allah yang tidak berubah), dengan cara yang sistematis.

Dengan demikian Teologia Kristen memenuhi unsur-unsur ilmu:
    1. Dapat dimengerti oleh pikiran manusia dengan cara teratur dan rasional. Teologi bukanlah suatu ilmu yang "mistik" sehingga hanya orang-orang yang dianggap suci saja yang dapat mengerti teologi.
    2. Menuntut adanya penjelasan secara metodologis. Teologi dijabarkan dalam metode sistematis tertentu
    3. Menyajikan kebenaran, bukan sebuah rekayasa fakta, sehingga dunia teologi kristen dapat dikorelasikan dengan sejarah dan juga sastra.
    4. Mempunyai nilai yang universal, yang artinya dikaji semua orang secara umum di segala tempat, waktu dan keadaan di seluruh dunia.
    5. Memiliki objek yang diteliti yaitu Allah dan Alkitab. Sekalipun obyek yang diteliti tidak dapat diteiliti seperti anda meneliti sel darah merah yang ditempatkan pada lempengan kaca kemudian diteiliti di laboratorium, namun obyek yang diteliti dalam teologi sangat berhubungan erat dengan kehidupan manusia itu sendiri.
Sebagai kesimpulan adalah, semua orang Kristen harus memahami teologi yang dapat dipelajari secara sistematis, dapat diteliti dengan metode teologi yang ada, dan obyeknya nyata berhubungan dengan kehidupan kita sebagai orang percaya yang mana Roh Kudus telah memetraikan kita (Ef. 1:13,14).
Tuhan Yesus Memberkati (=YB=)

Minggu, 27 November 2011

SUKSES JEMAAT, SUKSES PARA PELAYANANYA 1Tesalonika 3:1-13)

 
Sukses adalah pencapaian yang menyenangkan dalam setiap pelayanan rohani. Namun sukses yag dimaksud berbeda dengan kesuksesan duniawi atau yang dibayangkan sebagian besar manusia pada umunya. Sukses dalam hal rohani ialah terpenuhinya pencapaian pertumbuhan, baik jemaat maupun para pelayannya, yang mana mereka semua bangga atau puas dengan hal itu.
Paulus dalam ayat ini (1Tes. 3:1-5) jelas sekali mengutamakan sukses rohani jemaat terlebih dahulu baru ia menyadari pelayanannya sukses dengan berkata: “...Timotius datang kembali dari kamu dan membawa kabar yang menggembirakan...” (3:6a). Disini terlihat betapa sukacitanya Paulus ketika ia mendengar kabar yang sangat ia nanti-nantikan. Betapa tidak demikian, sebab dialah perintis pelayanan tersebut, sehingga penting baginya untuk memastikan pelayanan di Tesalonika berjalan baik dan jemaat bertumbuh dalam kerohanian. Tiga belas ayat dalam 1Tesalonika 3:1-13 terangkum dalam ayat 6 yang merupakan inti perenungan saya. Sehingga kita akan lebih fokus pada ayat 6.

Ada beberapa pilar untuk menopang “SUKSES JEMAAT DAN PARA PELAYANNYA”.

1.    Membangun iman yang Kokoh.
Frasa pertama dalam ayat 6 menyebutkan bahwa Paulus bergembira mendengar kabar tentang iman jemaat Tesalonika. Tentunya jika Paulus gembira maka kabar tentang iman jemaat Tesalonika tidak mengecewakan. Saya melihat disini Paulus merasa pelayanannya di Tesalonika tidaklah sia-sia. Pelayanan di kota tersebut sukses, dan pula itu menjadi suksesnya jemaat Tesalonika dalam iman mereka. Iman inilah yang terus dibangun, baik oleh Paulus maupun oleh rekan pelayan yang lain (ay.10).
Saya yakin Paulus adalah Hamba Tuhan yang bertanggung jawab, bukan hanya mendirikan jemaat, tetapi juga ketika dia sudah tidak lagi di sana, dia masih mencari tahu bahkan dia kuatir mengenai keadaan mereka sehingga dia berkata “kami tidak dapat tahan lagi” (1), “tidak dapat tahan lagi” (5). Frasa tersebut menunjukkan betapa Paulus, bukan sekedar terkenang akan orang-orang yang dia layani, tetapi emosi dan pikirannya terlibat.
Seringkali kita terkenang akan orang yang pernah kita layani, mengingat mereka, namun adakah kita seperti Paulus, yang bukan hanya terkenang, tetapi berpikir dan mengupayakan pertumbuhan iman mereka yang pernah ia layani sehingga dia mengutus Titius untuk melayani terlebih untuk mengukur bagaimana pertumbuhan iman jemaat Tesalonika. Hendaklah kita sebagai Tubuh Kristus yang pernah melayani sesama orang percaya, yang pernah terlibat pemenangan jiwa, yang pernah terlibat dalam pelayanan kategorial di gereja, atau apapun keterlibatan anda dalam Tubuh Kristus menyadari betapa pentingnya membangun iman yang kokoh di antara kita. Seperti Petrus  pernah berkata: “justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, dan kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara, dan kasih akan saudara kasi aka semua orang.” Iman perlu mengalami pertumbuhan, baik itu jemaat-jemaat dan pelayan-pelayan Tuhan.

2.    Membangun Kasih yang Murni.
Dalam ayat 6 ini juga Paulus menyebut satu kata “kasihmu” sebagai hal yang membuat ia bergembira. Kasih adalah ajaran yang populer dalam tulisan Paulus. Ketika Paulus menasihati supaya jemaat Tesalonika bertumbuh dalam kasih, ia sendiri menjadikan dirinya sebagai teladan dalam hal kasih (ay.12). untuk membangun kasih yang murni Paulus mulai dengan dirinya. Kita dapat melihat bagaimana kasih dan perhatian Paulus kepada jemaat. Tidak pernah ia menjadi beban bagi mereka. Tidak pernah ia menuntut sesuatu dari mereka yang ia layai. Paulus berjuang dan bekerja keras sendiri dengan tidak memusingkan kehidupannya sendiri. Ini semua ia lakukan karena ia sangat mengasihi jemaat yang ia layani.
Kasih ini mencakup dua hal umum:
  •   Kasih kepada sesama anggta Tubuh Kristus (ay. 12). Ini merupakan prioritas kasih orang percaya, seperti juga Paulus menasihati jemaat di Galatia untuk mengasihi terutama saudara seiman terlebih dahulu (Galatia 6:10). Ini harus menjadi perhatian orang percaya, mengingat tidak jarang dijumpai orang percaya kurang care kepada sesama orang percaya, tapi kepada orang tidak percaya lebih. Ini bukan mengajarkan tidak mengasihi sesama manusia, namun berbicara prioritas utama kasih kita.
  •   Kasih terhadap semua orang (ay.12). kasih kepada sesama manusia jangan pernah diabaikan. Sangatlah penting untuk mengasihi sesama siapa pun dia.

3.    Membangun Kenangan yang Manis.
Suatu kenangan merupakan ingat-ingatan tentang masa lalu yang menyenangkan maupun tidak. Kenangan atau ingatan peristiwa masa lalu dapat menjadi dorongan bagi orang percaya untuk membangun langkah-langkah pelayanan ke depan dengan lebih baik. Dalam ayat 6 ini Paulus mengatakan “kamu selalu menaruh kenang-kenangan yang baik akan kami”. Disini kita melihat bahwa suksesnya jemaat dan pelayannya terbangun ketika ada kenangan baik tentang pelayanan di masa lalu. Hal-hal kurang baik mungkin saja pernah terjadi dan masih terngiang dalam ingatan masing-masing anggota jemaat. Namun dalam hal ini Paulus TIDAK membangun kenangan yang pahit, dan mengingat-ingat hal buruk yang pernah terjadi dalam pelayanan di masa lalu.
Sering kita mendengar jemaat menolak pelayanan seorang pelayan karena ingat akan hal-hal buruk padanya di masa lampau. Jika itu terjadi ini akan menjadi penghambat bagi tercapainya sukses dalam jemaat.
Jadi janganlah kita membuat kenangan akan hal buruk dalam pelayanan, melainkan jadikan hal-hal baik sebagai kenangan yang indah yang menggembirakan ketika kita mengingat-ingatnya.


Refleksi:

SUKSES JEMAAT, SUKSES PARA PELAYANNYA. Ini dapat terwujud apabila semua komponen membangun iman yang kokoh, dan kasih yang murni, serta membangun kenangan akan hal-hal positip untuk memotivasi pergerakan pelayanan pada kekinian.
Tuhan Yesus memberkati.
(>YB<)

Μακάρι να ενισχύσει τις καρδιές σας, να είναι άμεμπτη και άγια ενώπιον του Θεού και Πατέρα μας, με την έλευση του Ιησού, τον Κύριό μας, με όλους τους αγίους

DOKTRIN KRISTUS (KRISTOLOGI)

PANDANGAN KONTEMPORER TENTANG KRIST US A.       Ebionisme: “Yesus manusia biasa, diangkat menjadi Mesias karena kesalehan.” Go...