TANGGUNG JAWAB AYAH DALAM PENDIDIKAN KELUARGA:
Kajian Teologis-Gramatikal Terhadap Kitab Amsal
Oleh: Daniel Setiawan, M.Th.
Abstrak
Kata benda ayah memiliki arti yang menunjukkan hubungan dalam keluarga yaitu sebagai orang tua jika bersama dengan kata benda ibu dan arti gelar kehormatan. Dari kedua arti itu, arti yang pertama yang ditekankan dalam penelitian ini yaitu ayah sebagai orang tua.
Ada tiga tanggung jawab ayah dalam pendidikan keluarga menurut kitab Amsal yang dibahas dalam penelitian ini yaitu mengajarkan jalan hikmat (Ams. 4:11), mendisiplin (Ams. 29:17) dan memberi ajaran yang baik (Ams. 4:2).
Kata Kunci : Mengajar, Mendisiplin, Memberi
A. Pendahuluan
Kataayah mempunyai arti orang tua kandung laki-laki. Kata ayah dalam bahasa Ibrani adalah ba* (A*B). Kata benda A*Bmenunjukkan hubungan dalam keluarga (bnd. Kej. 2:24). Kata A*B jika digabung dengan kata A@< yang artinya ibu menunjukkan orang tua seseorang (Im. 19:3). Kata A`B juga dapat berarti “kakek” dan/atau “moyang / buyut laki-laki, leluhur” (Kej. 28:13; 1Raj. 19:4) yang menekankan satu garis keturunan. Kata benda ini kadangkala menggambarkan hubungan berdasarkan pengangkatan, khususnya ketika itu digunakan untuk “pendiri golongan atau lingkungan,” seperti keterampilan : “Dan Ada melahirkan Yabal : dia adalah ayah yang tinggal dalam kemah, dan mempunyai ternak” (Kej. 4:20).[1]
A`B dapat jadi gelar kehormatan, biasanya dipakai untuk orang tua, seperti ketika Daud berkata kepada Saul : “selain itu, ayahku, lihat, ya, lihat rok jubahmu dalam tanganku . . .” (1Sam. 24:11). Kata itu juga dipakai untuk pengajar-pengajar : “Dan Elisa telah melihat itu, dan dia telah menangis, Ayahku, ayahku, kereta pertempuran Israel, dan penunggang kuda daripadanya . . .” (2Raj. 2:12). Dalam 2 Raja-raja 6:21, kata itu adalah dipakai untuk nabi Elisa dan dalam Hakim-hakim 17:10, untuk imam; kata ini juga sebuah gelar kehormatan ketika digunakan untuk “suami orang”: “Kehilangan tenaga engkau bukan dari waktu ini menangis untuk aku, Ayahku, engkau adalah pemandu pemudaku?” (Yer. 3:4). Dalam Kejadian 45:8, kata benda itu digunakan untuk seorang “penasihat” : “Jadi sekarang itu bukan kamu yang mengutus aku memukul, tetapi Allah : dan dia telah membuat aku ayah [penasihat] untuk Firaun, dan tuan dari semua rumahnya, dan penguasa diseluruh tanah Mesir.” Dalam masing-masing kasus, seseorang digambarkan sebagai “ayah” mencapai posisi atau status dan telah menerima hak kehormatan untuk seorang “ayah.”[2]
Jadi kata benda ayah memiliki arti yang menunjukkan hubungan dalam keluarga yaitu sebagai orang tua jika bersama dengan kata benda ibu dan arti gelar kehormatan. Dari kedua arti itu, arti yang pertama yang ditekankan dalam penelitian ini yaitu ayah sebagai orang tua.
Ada tiga tanggung jawab seorang ayah dalam keluarga yang dibahas dalam penelitian ini yaitu mengajarkan jalan hikmat (Ams. 4:11), mendisplin (Ams. 29:17) dan memberi ajaran yang baik (Ams. 4:2).
B. Mengajar Jalan Hikmat (Ams. 4:11)
Kata mengajar dalam bahasa Ibrani yaitu hr`y` (y`r`h) yang terdapat dalam Amsal 4:4 dan 4:11. Ide dasar akar kata y`r`h adalah “melemparkan” atau “memberikan” dengan pengertian kuat untuk pengawasan oleh subyek. Bagian-bagian telah diberikan dalam hal untuk membagi tanah itu di antara berbagai suku (Yos. 18:6). Allah melemparkan tentara Mesir kedalam Laut Merah (Kel. 15:4; bnd. Ayb. 30:19). Dengan batu-batu, itu mempunyai ide menempatkan mereka dalam tempat tertentu; Allah telah meletakkan batu penjuru dunia (Ayb. 38:6) dan Laban mendirikan tumpukan batu dan sebuah pilar sebagai saksi antara Yakub dan dirinya sendiri untuk perjanjian damai mereka (Kej. 31: 51). Tiga paling sering penggunaan dari akar kata ini setuju dengan menembakkan anak panah, menurunkan hujan dan mengajar.[3] Jadi kata y`r`h artinya mengajar yang memiliki ide memberikan.
Amsal 4:11 memperjelas bahwa ayah mengajarkan jalan hikmat (Ams. 4:11). Kata jalan berasal dari kata Ibrani Er\d\ (D\r\K) yang jika dihubungkan dengan kata kerja D*r~K “menempuh, menginjak-injak,” itu menunjuk pertama pada jalan kecil dipakai dengan terus menerus berjalan. Kejadian 3:24 menyebutkan “jalan kepohon kehidupan,” dihalangi setelah kejatuhan manusia. Hagar telah ada pada perjalanan ke Shur ketika malaikat bertemu dengan dia (Kej. 16:7). Ini dapat juga diterjemahkan “pada jalan” ke Shur (bnd. Kej. 38:21; Kel. 4:24). KadangkalaD\r\K dapat menunjuk pada jalan raya utama, seperti jalan raya raja (D\r\K h~mm\l\K) menuju utara dan selatan di Transjordan (Bil. 20:17; 21:22). “Jalan laut” (Yes. 9:1), diketahui terakhir sebagai Via Maris, secara luas dari Gaza ke Damaskus. Keluaran 13:17 menyebutkan jalan sepanjang pantai dari Mesir melalui negeri Filistin.[4]
D\r\K dapat juga berarti “perjalanan,” biasanya satu dari beberapa lamanya hari. Yusuf telah mempersiapkan persediaan untuk perjalanan ayahnya ke Mesir (Kej. 45:23), dan orang-orang Gibeon telah memperdaya Yosua dengan menegaskan telah mencapai “perjalanan sangat panjang” (Yos. 9:13). Elia menertawakan nabi-nabi Baal seperti dia menganjurkan dewa mereka mungkin “dalam perjalanan” (1Raj. 18:27). Dalam Kej. 24:21 hamba Abraham mengucapkan terima kasih pada Allah karena membuat perjalanannya (atau misi) ke Mesopotamia berhasil.[5]
Lebih banyak adalah penggunaan kiasan untuk D\r\K. Itu sering menunjuk pada tindakan-tindakan dan tindak tanduk manusia, baik mengikuti jalan orang benar atau jalan orang jahat (Maz. 1:6). Jalan orang benar jelas dihubungkan dengan “jalan Tuhan.” Orang tua memerintahkan anak-anak mereka “untuk menjaga jalan Tuhan” (Kej. 18:19; bnd. Ams. 22:6), yang ditemukan dalam undang-undang dan perintah-perintah hukum Allah (1Raj. 2:3). Jalan Allah adalah lebih tinggi daripada jalan-jalan manusia, dan orang jahat didesak untuk meninggalkan jalan penuh dosanya (Yes. 55:7-9). Allah telah mengirim air bah karena manusia “telah merusak jalan-jalan mereka” (Kej. 6:12) dan juga setelah pemberian hukum itu, Israel dengan cepat menyimpang dari jalan Tuhan (Ul. 9:16) meskipun mereka telah dijamin bahwa jalan-jalan mereka tidak akan berhasil (Ul. 28:29). Selama kerajaan dibagi, penguasa-penguasa Israel terus menerus telah berjalan dalam jalan Yerobeam dan telah mengabaikan Allah (1Raj. 16:26). Mereka telah mengambil jalan yang terlihat benar, tetapi pada akhir itu memimpin pada kematian (Ams. 14:12).
Adakalanya D\r\K berarti “cara” atau “kebiasaan.” Anak-anak perempuan Lot telah melakukan perbuatan berzinah dengan ayah mereka karena mereka telah berpikir bahwa, setelah penghancuran Sodom, “kebiasaan” normal pernikahan adalah tidak mungkin (Kej. 19:31). Terakhir dalam Kitab Kejadian, Rachel minta maaf dari bangun pada kehadiran ayahnya karena “kebiasaan perempuan (masa menstruasinya) atas saya” (Kej. 31:35). Arti kata D\r\K dalam tesis ini yaitu tindakan dan tindak tanduk manusia.
hm*k=j* (j":<*H) hikmat. Dalam buku-buku sejarah dan nubuatan, kata j:<*H kadangkala digunakan hanya untuk menunjuk pada kecerdasan dan keterampilan biasa (Kel. 35:35; Dan. 1:4). Hikmat terlihat dalam keahlian pekerjaan tehnikal dalam membuat pakaian-pakaian untuk imam besar (Kel. 28:3), keterampilan dalam pekerjaan besi (Kel. 31:3, 6), sama baik dengan pelaksanaan taktik perang (Yes. 10:13). Hikmat diperlukan dari pemimpin-pemimpin pemerintah dan kepala-kepala bagian untuk administrasi (Ul. 34:9; 2Sam. 14:20).[6]
Hikmat diungkapkan dalam ketajaman pikiran. Perempuan Tekoa telah mencegah pertumpahan darah kota dalam permohonan yang pandainya untuk keselamatannya (2Sam. 20:22). Tetapi orang yang pintar tidak membanggakan pemberiannya (Yer. 9:22). Burung unta memperlihatkan sifat kekurangan ketajaman pikiran ketika dia bertindak dalam sikap mementingkan diri sendiri pandirnya (Ayb. 39:17). Pemberian ketajaman pikiran dapat digunakan dalam jalan tak beriman untuk menyangkal kemahatahuan Allah (Yes. 47:10).
Sumber semua hikmat adalah pribadi Allah yang kudus, benar dan adil. Hikmat-Nya diungkapkan melawan latar belakang kemahakuasaan dan kemahatahuan-Nya. Melalui hikmatnya, Allah telah menjumlah awan-awan (Ayb. 38:37), telah mendirikan bumi (Ams. 3:19) dan membuat dunia (Yer. 10:12). Hikmat, ada ditemukan dalam Allah, dianggap sebagai sifat ilahi (Ayb. 12:13). Dia sendiri mengetahui hikmat dalam pengertian benarnya (Ayb. 28:20, 23). Hikmat Allah tidak ditemukan dalam pemikiran manusia. Dia sendiri menyediakan hikmat ini untuk petunjuk manusia supaya manusia dapat menghidupi moral yang mungkin terbaik dan etika hidup (Ams. 2:6; Ayb. 11:6).
Hikmat untuk manusia tidak hanya membuat orang bijak secara manusia, tetapi juga memimpin dia pada takut akan Tuhan, karena ini adalah permulaan semua hikmat (Ayb. 28:28). Hikmat yang benar untuk manusia meliputi pengetahuan Orang Kudus. Jadi, manusia mendengar pada hikmat Allah dengan telinga yang penuh perhatian (Ams. 2:2). Kegembiraan bagian dalam hanya datang ketika manusia mencapai hikmat ini (Ams. 3:13) melalui pencarian yang kuat (Ams. 2:4), yang mana sebenarnya mencari Allah sendiri (Ams. 2:5).[7] Kata j:<*H dalam tesis ini berarti ketajaman pikiran yang memampukan seseorang dapat membedakan mana yang baik dan yang tidak baik yang mana hal itu berasal dari Allah.
Jadi ayah mengajarkan jalan hikmat dalam pengertian mengajarkan atau memberikan tindakan-tindakan dan tindak tanduk yang didasarkan pada ketajaman pikiran.
C. Mendisiplin (Ams. 29:17)
Kata Ibrani rs^y` (y`s~r) dalam Alkitab bahasa Indonesia diterjemahkan dengan kata mendidik (Ams. 29:17. ;n+B! rS@y~Didiklah anakmu), tetapi dalam penelitian ini, kata Ibrani y`s~r diterjemahkan mendisplin. Jadi terjemahan Amsal 29:17 adalah disiplinlah anakmu.
Dari pemakaian dan kesejajaran dalam Perjanjian Lama, orang harus menyimpulkan bahwa y`s^r dan mWs^r menunjukkan perbaikan yang dihasilkan dalam pendidikan. Dasar teologi untuk disiplin adalah didasarkan pada hubungan perjanjian yang Yahweh dirikan dengan umatnya. Kata-kata itu ditemukan hampir 90 kali, 9 kali dalam Pentateukh, 26 kali dalam nabi-nabi dan 5 kali dalam Hagiographa, (36 dari ini dalam Amsal). Dalam Imamat 26:18, 28 y`s^r digunakan dalam rumusan “Aku akan menghukum (untuk kebaikan) kamu tujuh kali untuk dosa-dosamu,” dengan sejajar dekat dalam ay. 24, “Aku akan menghukum kamu tujuh kali” (n`K> “memukul, menampar, membentur, menabrak). Disiplin perbaikan Allah mencari reformasi umat (Im. 26:23). Enam penggunaan lain dalam Pentateukh ditemukan dalam Ulangan, dokumen pembaharuan semua perjanjian penting. Kunci untuk memahami mWs^r adalah Ulangan 11:2, “Pertimbangkan disiplin Tuhan Allahmu, kebesarannya . . . tanda-tandanya dan perbuatan-perbuatannya yang dia telah lakukan di Mesir untuk Firaun . . . dan apa yang dia telah lakukan untuk kamu di padang gurun.” Pendek kata, mWs^r Yahweh adalah aktivitas hebatnya dalam sejarah perjanjian melalui yang dia menyatakan dirinya sendiri (bnd. ay. 7 dengan 4:35).[8]
Disiplin Yahweh tidak diambil secara negative, untuk kesukaran di padang gurun diseimbangkan dengan ketetapan yang menakjubkannya dimaksudkan untuk ujian “apa yang ada dalam hatimu, apakah kamu akan menjaga perintah-perintahnya atau tidak” (Ul. 8:2). Karena itu, melalui kelaparan mereka, sama baiknya dengan manna yang dia telah sediakan, mereka “mengerti bahwa manusia tidak hidup melalui roti saja, tetapi . . . melalui setiap apa yang diteruskan dari mulut Yahweh” (Ul. 8:3). Jadi, mereka telah mengetahui dalam hati mereka bahwa Yahweh telah mendisiplin mereka (Ul. 8:5). Disiplin ini kemudian mungkin jadi pendidikan yang dipertimbangkan itu adalah berpusat pada Allah. Bahwa Ulangan 8:5 menggunakan ungkapan perbandingan “seperti manusia mendisiplin anaknya” bukan tanpa arti perjanjian dan teologi. Orang kuno sering menunjuk pada raja yang berkuasa sebagai ayah dan pada pengikutnya sebagai anak. Dalam himne perjanjian Musa, kita membaca bahwa Yahweh diditunjuk sebagai Ayah (Ul. 32:6; bnd. 1:31; Yes. 1:2) untuk umat perjanjian (meskipun Kel. 4:22; Ul. 1:31 mengajarkan konsep yang sama). Karena itu, dasar teologi untuk disiplin ayah dunia atas anaknya adalah dalam perjanjian itu. Dia menghasilkan gambaran Tuhan perjanjiannya dan seperti berada dalam hubungan kesejajaran atas anak-anaknya – penghukuman, perbaikan, pengajaran, penyediaan – yang adalah ungkapan hubungan kasih antar pribadi. Demikian juga tiga pemakaian dalam Amsal dan di tempat lain, contoh Amsal 3:11-12 dimanamWs^r dan T)K^j^T dikatakan datang dari Yahweh “untuk siapa yang Tuhan kasihi (A`H^B) dia memarahi (y`K^j), juga seperti ayah, anak dalam siapa yang dia senang. Karena itu, disiplin memberi point pada cara hidup berpusat Allah dan hanya kedua untuk kelakuan etika. Amsal 1:7 merangkaikan itu dengan “takut akan Yahweh,” dan Amsal 1:8 dengan Tor> “pengajaran, ajaran.” Karena itu, juga ketakbernilaian mWs^r (Ams. 8:10) dan alasan mengapa orang bodoh memandang rendah terhadap itu (Ams. 15:5, 32). Kitab Amsal dan literature hikmat lain membicarakan disiplin dengan tekanan pada pengajaran. Itu adalah menarik untuk melihat bahwa nampaknya gagasan berbeda untuk pembetulan dan pengajaran bertemu dengan indah hanya dalam perjanjian itu.[9] Jadi kata y`s~r dalam arti hukuman untuk mendatangkan kebaikan yang didasarkan pada kasih seorang ayah kepada anaknya.
Untuk menjalankan disiplin dalam pendidikan keluarga, beberapa ayat dalam kitab Amsal menyebutkan kata tongkat misalnya Amsal 22:15; 23:13 dan Amsal 29:15. Kata tongkat berasal dari kata Ibrani fb#v@ (v@B\f) yang dapat diterjemahkan tangkai, batang, rod, tongkat, tongkat lambang kekuasaan. Kata benda ini secara umum menunjukkan tongkat. Itu telah digunakan sebagai sebuah senjata (2Sam. 23:21), dan sebagai peralatan gembala baik untuk mengumpulkan maupun untuk menghitung domba (Im. 27:32; Yeh. 20:37), atau untuk melindungi mereka (Maz. 23:4; Mik. 7:14). Dalam Maz. 23:4, itu digunakan secara kiasan untuk perlindungan Tuhan untuk hambanya seperti dia berjalan dalam jalan kecil kebenaran.[10]
Tongkat juga telah digunakan sebagai alat untuk baik yang berhubungan dengan perbaikan maupun hukuman. Sebagai alat yang memperbaiki, itu telah digunakan untuk seorang budak (Kel. 21:20), orang bodoh (Ams. 10:13; 26:3) dan seorang anak (Ams. 13:24; 22:15; 23:13-14; 29:15). Dalam Amsal, itu adalah simbol disiplin dan kegagalan menggunakan disiplin pencegahan untuk kemarahan lisan dan disiplin perbaikan untuk hukuman fisik akan berakhir dalam kematian anak. Secara kiasan, Tuhan telah menggunakan Asyur sebagai alatnya untuk memperbaiki Israel (Yes. 10:15) dan bangsa-bangsa untuk memperbaiki rajanya yang tidak patuh (2Sam. 7:14). Itu juga digunakan secara kiasan untuk penderitaan yang berhubungan dengan hukuman untuk penguasa-penguasa Israel melalui musuh (Mik. 5:1) tetapi Raja benar dari Tuhan akan memukul orang jahat dengan “tongkat” kata penghukumannya (Yes. 11:4).[11]
Kata v@B\f juga dapat menunjuk pada tongkat sebagai lambang kekuasaan atau tanda wibawa. Gabungan pukulan dan putusan adalah jelas. Nabi-nabi menubuatkan bahwa “tongkat lambang kekuasaan musuh-musuh Israel akan dilepaskan (Amos 1:5; Zak. 10:11), Yakub telah menubuatkan bahwa “tongkat lambang kekuasaan tidak akan menyimpang dari Yehuda . . . sampai Shiloh datang . . .” (Kej. 49:1), dan pemazmur telah menubuatkan bahwa penguasa dari raja ideal Israel akan berlangsung terus selamanya (Maz. 45:7). Janji-janji ini menemukan penggenapan mereka dalam Tuhan Yesus Kristus. Gabungan dekat “pukulan” dan “penguasa” adalah paling jelas dalam nubuatan pemazmur bahwa Raja Tuhan akan menghancurkan orang jahat, dunia yang suka melawan dengan tongkat besi (Maz. 2:9, meskipun mungkin Maz. 2:9 menunjuk pada penggembalaan atau penguasaan bangsa-bangsa dengan tongkat lambang kekuasaan dari besi – bnd. Maz. 2:9 dan Why. 19:15; bnd. Maz. 125:3; Yes. 14:5).[12]
Kata mendisiplin artinya mengajarkan batas-batas dan nilai-nilai, juga memberlakukan konsekuensi pada saat batas-batas dan nilai-nilai dilanggar.[13] Hukuman atau pendisiplinan adalah bagian dari pendidikan. Tidak menghukum anak berarti tidak mendidik anak bahkan Firman Tuhan mengatakan tidak mengasihi anak. Bagian dari mendidik adalah menghukum atau mendisiplin anak dan hal itu merupakan satu bentuk dari kasih dan perhatian orang kepada anak. Wijarnako menegaskan bahwa tidak menghukum tidak mendidik, mendidik anak berarti harus dengan menghukum, mendisiplin yang juga menjadi pola Tuhan dalam mendidik umat-Nya.[14]
Banyak anak memiliki sikap pemberontakan dan tidak mau dinasihati karena mereka tidak pernah ditegur, tidak pernah didisiplin atau terlalu dimanja oleh orang tua semasa mereka masih kecil. Banyak anak bertingkah laku tidak baik dan nakal karena di rumah anak dibiarkan oleh orang tua dan tidak pernah didisiplin atau dihukum karena orang tua terlalu mengasihi mereka. Tetapi orang tua yang baik mempunyai tanggung jawab untuk mendisiplin atau menghukum anak jika anak bersikap tidak baik.
Tujuan disiplin menurut Henry Cloud dan John Townsend adalah mengajar anak bahwa kalau anak melanggar suatu nilai, maka anak akan menyesal.[15] Tujuan hukuman adalah untuk menekankan dan menegakkan peraturan secara lebih sungguh-sungguh sedangkan fungsi hukuman adalah untuk menegaskan peraturan, untuk menyatakan kesalahan dan menyadarkan seseorang yang berada di jalan yang salah serta meninggalkan jalan yang benar. Hukuman yang efektif membuat anak menyadari kesalahannya dan tidak melakukan kesalahan yang sama.
Hukuman atau disiplin tidak diberikan setiap waktu tetapi pada waktu yang tertentu. Hukuman diberikan supaya anak menyadari kesalahannya dan kembali ke jalan yang benar. Ketika anak sudah menyadari kesalahannya maka hukuman dihentikan. Hukuman diberikan bukan didasarkan pada kemarahan orang tua tetapi untuk kebaikan anak. Meskipun orang tua marah tetapi penguasaan diri tetap dijaga. Kemarahan orang tua dapat mengakibatkan anak semakin membenci atau menimbulkan kepahitan dalam diri anak dan tidak membuat anak menjadi semakin baik tetapi menjadi semakin buruk maka tujuan hukuman diberikan tidak akan tercapai.
Hukuman tidak harus dengan tongkat. Perkataan dapat juga berfungsi sebagai tongkat untuk memberi hajaran maupun hukuman dan kadangkala perkataan lebih menyakitkan daripada pukulan tongkat. Oleh karena itu orang tua perlu bijaksana mengucapkan kata-kata ketika memberi hukuman. Kata-kata yang menyerang pribadi, menusuk hati, meremahkan dapat melukai perasaan anak. Orang tua memberi hukuman lebih baik mulai dari ukuran terendah hingga tujuan didikan tercapai yaitu anak menyadari kesalahannya.[16] Tetapi jika harus memukul dengan tongkat, ada bagian tubuh anak yang dikhususkan untuk menerima pukulan tersebut yaitu pantatnya. Pukulan tongkat pada bagian tubuh yang lain dapat mengakibatkan kerusakan saraf baik saraf yang ada di tangan, di kaki maupun di kepala yang dapat mengakibatkan gangguan pada tubuh anak. Mengenai hal ini Wijanarko berpendapat bahwa “pantat adalah bagian yang aman untuk dipukul, bahkan saya memandang ini sebagai tempat yang Tuhan ciptakan untuk didikan.”[17]
Dalam pembahasan ini, tongkat sebagai media pendidikan yaitu alat yang dipakai untuk memperbaiki anak dari tingkah lakunya yang kurang baik dan juga untuk melenyapkan atau mengusir kebodohan dalam diri anak tersebut.
D. Memberi Ajaran yang Baik (Ams. 4:2)
Tanggung jawab ketiga dari seorang ayah adalah memberi. Amsal 4:2. <k#l*yT!t^n` bof jq~l# yK! Karena aku memberikan ajaran yang baik kepadamun`T~n menggambarkan tindakan melalui yang mana sesuatu adalah digerakkan atau dijalankan. Achsah telah berkata pada ayahnya, Caleb untuk “memberi” dia sebuah berkat, seperti sebuah bidang tanah dengan air yang berlimpah-limpah, sebagai maharnya; dia telah menginginkan dia untuk “memindahkan” itu dari milik ayahnya menjadi miliknya (Yos. 15:19). Itu adalah penggunaan tehnik dari kata kerja ini tanpa sebuah obyek : Musa mengajar Israel untuk “memberi” dengan bermurah hati pada manusia dalam kebutuhan yang sangat menyedihkan (Ul. 15:10). Dalam beberapa contoh, n`T~n dapat berarti “memeroleh,” seperti dalam “memeroleh” bau wangi (Kid. 1:12). Ketika digunakan untuk benda cair, kata itu berarti “memeroleh” dalam pengertian “menumpahkan,” untuk contoh, menumpahkan darah (Ul. 21:8).[18]
n`T~n juga mempunyai arti tehnikal dalam bidang ilmu hukum, arti menyerahkan sesuatu pada seseorang – untuk contoh “membayar” (Kej. 23:9) atau “meminjamkan” (Ul. 15:10). Orangtua perempuan atau seseorang yang lain dalam posisi tanggung jawab mungkin “memberi” dia pada pria menjadi isterinya (Kej. 16:3), sama baik dengan menyajikan pengantin hadiah (Kej. 34:12) dan mahar (1Raj. 9:16). Kata kerja itu juga digunakan untuk “memberi” atau “mengabulkan” sebuah permintaan (Kej. 15:2).
Kadangkala, n`T~n dapat digunakan untuk arti “menaruh” (“menempatkan”) seseorang ke dalam tahanan (2Sam. 14:7) atau ke dalam penjara (Yer. 37:4) atau juga “menghancurkan” sesuatu (Hak. 6:30). Pengertian dasar yang sama dipakai “mempersembahkan” (“menyerahkan”) sesuatu atau seseorang pada Allah, seperti anak sulung (Kel. 22:29). Orang-orang Lewi adalah orang-orang yang telah “diserahkan” dalam cara ini (Bil. 3:9). Kata ini digunakan untuk “membawa pembalasan dendam) atau seseorang atau untuk “memberi” dia apa yang dia pantas menerima; dalam beberapa kasus, tekanan itu pada tindakan pembalasan dendam (1Raj. 8:32), atau membawa hukumannya atas kepalanya.[19]
n`T~n dapat digunakan untuk “memberi” atau “menganggap berasal” sesuatu pada seseorang, seperti “memberi” kemuliaan dan pujian pada Allah (Yos. 7:19). Dengan jelas, tidak ada apa-apa diberikan dari manusia pada Allah; tidak ada apa ditambahkan untuk Allah, karena Dia adalah sempurna. Karena itu, arti ini bahwa penyembah mengenal dan mengakui apakah Dia.[20]
Tekanan utama lain kata n`T~n adalah tindakan “memberi” atau “menyebabkan” sebuah hasil. Sebagai contoh, tanah itu akan “memberi” (“menghasilkan”) buahnya (Ul. 25:19). Dalam beberapa bagian, kata kerja ini berarti “memperoleh atau mendapatkan” (“mengadakan”), seperti ketika Allah “telah memberi” (“memperoleh, mengadakan”) kemurahan hati untuk Yusuf (Kej. 39:21). Kata itu dapat digunakan untuk kegiatan seksual, juga menekankan tindakan hubungan atau “merebahkan diri seseorang” dengan binatang (Im. 18:23). Arti ketiga dari n`T~n terlihat dalam Kej. 17:5 : “. . . Atas ayah banyak bangsa Aku telah membuat [secara literal, “memberikan”] engkau.” Itu adalah beberapa contoh dimana kata kerja menghasilkan arti ini.
n`T~n mempunyai sejumlah pengertian khusus ketika digunakan dengan bagian-bagian tubuh – untuk contoh, “memberi” atau “memutar” bahu yang keras (Neh. 9:29). Demikian pula, membandingkan ungkapan seperti “memalingkan [memberi] wajah seseorang” (2Taw. 29:6). “Membalikkan [memberi] punggung seseorang” adalah melarikan diri (Kel. 23:27). “Memberi tangan seseorang” mungkin tidak lebih daripada mengusahakan itu,” seperti dalam kasus Zarah yang belum lahir (Kej. 38:28). Kata ini dapat juga berarti tindakan persahabatan seperti ketika Jehonadab “telah memberi tangannya” (sebagai pengganti sebuah pedang) pada Jehu untuk menolong dia kedalam kereta pertempuran (2Raj. 10:15); sebuah tindakan mengangkat sumpah, seperti ketika imam-imam “telah berjanji” (“telah memberi tangannya”) untuk menyisihkan isteri-isteri asing mereka (Ezr. 10:19); dan “membuat” atau “memperbarui” sebuah perjanjian, seperti ketika pemimpin-pemimpin Israel “telah berjanji” diri mereka sendiri (“telah memberi tangan mereka”) untuk mengikuti Salomo (1Taw. 29:24).[21]
“Memberi sesuatu kedalam tangan seseorang” adalah “melakukan” untuk memeliharanya. Setelah Air Bah, Allah “telah memberi” bumi itu kedalam tangan Nuh (Kej. 9:2). Ungkapan ini digunakan untuk mengungkapkan “pemindahan kekuasaan politik,” seperti hak ilahi untuk menguasai (2Sam. 16:8). Kata n`T~n digunakan secara khusus dalam pengertian militer dan pengadilan, pengertian “menyerahkan kekuasaan atau pengawasan seseorang,” atau menjamin kemenangan pada seseorang; jadi Musa berkata Allah akan “memberikan” raja-raja Kanaan kedalam tangan-tangan Israel (Ul. 7:24). “Memberi hati seseorang” pada sesuatu atau seseorang adalah “memperhatikan tentang itu”; Firaun telah tidak “memperhatikan” mengenai (“tidak menaruh hatinya pada”) pesan Musa dari Allah (Kel. 7:23). “Menaruh [memberi] sesuatu kedalam hati seseorang” adalah memberi seseorang kemampuan dan perhatian melakukan sesuatu; demikian Allah “menaruh” itu dalam hati seorang Ibrani yang ahli untuk mengajar yang lain (Kel. 36:2).
“Memberi wajah seseorang kepada” adalah menfokuskan perhatian seseorang pada sesuatu, seperti ketika Jehoshaphat telah takut persekutuan raja-raja Transjordania dan “menaruh [wajahnya] mencari Tuhan” (2Taw. 20:3). Ungkapan yang sama dapat hanya berarti “menghadap seseorang atau sesuatu” (bnd. Kej. 30:40). “Memberi wajah seseorang melawan” adalah tindakan yang bermusuhan” (Im. 17:10). Digunakan dengan l]Pn? (secara literal, “dihadapan wajah “), kata kerja ini mungkin berarti “menempatkan obyek dihadapan” atau “meletakkan dihadapan” (Kel. 30:6). Itu mungkin juga berarti “menaruh dihadapan” (Ul. 11:26), “memukul” (bnd. Ul. 2:33), atau “memberi sebagai milik seseorang” (Ul. 1:8).
Kata kerja n`T~n memiliki beberapa arti seperti menggambarkan tindakan melalui yang mana sesuatu adalah digerakkan atau dijalankan, memberi dalam pengertian menganggap berasal, memperoleh, menyerahkan sesuatu pada seseorang, menempatkan, menghasilkan dan beberapa arti yang dihubungkan dengan bagian tubuh. Dari beberapa arti diatas, pada penelitian tesis ini, kata n`T~n berarti menyerahkan sesuatu pada seseorang.
Kata ajaran berasal dari kata Ibrani jq~l# (l\q~j) yang dapat juga berarti doktrin, pengajaran, dan pengetahuan. Kata itu digunakan dalam pengertian sesuatu yang dimengerti.[22] Kata ini muncul 9 kali, dalam empat yang mana itu adalah obyek y`s~P “menambahkan lebih, memperluas, bertambah, meningkat” (Ams. 1:5; 9:9; 16:21, 23). Seperti dengan akar kata itu berarti “mengambil, menangkap, meraih,” “merenggut, memegang” dengan pikiran dan oleh karena itu “merasa” adalah nuansa yang menyolok dalam kata jadian ini. Beberapa catatan dari kata itu dengan yang mana itu adalah pasangan :B'n> “pengertian” (Yes. 29:24), j`:`m “hikmat” (Ams. 1:5; 9:9) dan Tor> “pengajaran, hukum” (Ams. 4:2). Dalam Ams. 7:21 l\q~j berarti “keyakinan” perempuan sundal. Tetapi dalam Ams. 16:21 kata itu digunakan dalam pengertian baik dari keyakinan seorang guru.[23] Jadi ayah menyerahkan ajaran yang dapat dimengerti oleh pikiran anak.
Selanjutkan kata baik yang merupakan kata sifat yang menjelaskan kata ajaran dibahas berikut ini. Kata baik dalam bahasa Ibrani yaitu kata Bof(foB). Kata foB digunakan dalam pengertian “menyenangkan, sedap” atau “yang sangat menyenangkan” : “Dan dia telah melihat itu [tempat istirahat] adalah baik dan tanah itu bahwa itu adalah menyenangkan; dan membungkukkan bahunya untuk memikul [beban] . . .” (Kej. 49:15). Perluasan dari pengertian ini muncul dalam Kej. 40:16, dimana foB berarti “baik” atau “dalam kemurahan hati seseorang” : “Ketika kepala tukang roti telah melihat bahwa penafsiran itu adalah baik, dia telah berkata kepada Yusuf . . .” foB dapat dipakai untuk kecantikan yang indah, seperti dalam 2Raj. 2:19: “Lihatlah, saya memohon pada engkau, situasi kota ini adalah menyenangkan, seperti tuanku lihat : tetapi air itu adalah tidak baik dan tanah yang tandus.”[24]
foB sering memberi sifat obyek umum atau aktivitas. Ketika kata itu digunakan dalam pengertian ini, bukan nada tambahan etika dimaksudkan. Dalam 1Sam. 19:4, foB menggambarkan cara Yonathan berbicara mengenai Daud : “Dan Yonathan telah mengatakan kebaikan Daud kepada Saul ayahnya, dan berkata kepada dia, Jangan biarkan raja berdosa melawan hambanya, melawan Daud; karena dia telah tidak berdosa melawan engkau, dan karena pekerjaan-pekerjaannya telah [terhadap engkau] sangat baik.” 1 Samuel 25:15 memberi ciri kepada orang sebagai “ramah” atau “bermanfaat” : “Tetapi manusia adalah sangat baik kepada kita, dan kita tidak menyakiti, tidak ada yang telah hilang kita apapun, ketika kita telah ada di padang.”[25]
Di tempat lain foB dipakai untuk evaluasi keadaan baik seseorang atau keadaan baik dari situasi atau benda: “Dan Allah telah melihat terang itu, bahwa itu adalah baik : dan Allah telah memisahkan terang itu dari kegelapan” (Kej. 1:4 – kemunculan pertama).[26]foB digunakan untuk menggambarkan tanah dan pertanian: “Dan saya turun untuk menyelamatkan mereka keluar dari [kekuatan] orang-orang Mesir, dan untuk membawa mereka maju keluar dari tanah itu kepada tanah baik [subur] dan besar, kepada tanah yang mengalir dengan susu dan madu . . .” (Kel. 3:8). Ini menyatakan secara tidak langsung potensinya untuk dukungan hidup (Ul. 11:17). Jadi ungkapan “tanah baik” adalah pendapat mengenai bukan hanya keadaannya, tetapi potensinya, daya produksi. Dalam konteks seperti itu, tanah dipandang sebagai satu aspek dari berkat-berkat keselamatan yang dijanjikan oleh Allah; namun Tuhan tidak mengizinkan Musa menyeberangi Yordan dan masuk ke tanah itu yang umat-Nya telah mewarisi (Ul. 3:26-28). Aspek “tanah baik” ini termasuk nada tambahan dari kesuburan dan “kesenangan”nya : “Dan dia akan mengambil ladang-ladangmu dan kebun-kebun anggurmu, dan kebun-kebun zaitunmu, juga yang terbaik dari mereka . . ” (1Sam. 8:14).
Dalam bagian lain, foB menggambarkan kemunculan fisik : “Dan anak dara itu telah sangat cantik untuk dilihat [literal, “baik rupa’] . . .” (Kej. 24:16). Kebaikan estetik atau sensual mungkin ditunjukkan. Itu menggambarkan kecantikan atau sifat disenangi, dari “anak-anak perempuan manusia” untuk “anak-anak laki-laki Allah” (Kej. 6:2), kecantikan Ribkah (Kej. 24:16), dan kecantikan Betsheba (2Sam. 11:2). Kata “tampan” dipakai ketika istilah ini menggambarkan laki-laki (1Sam. 16:12).[27]
Pemakaian penting dari istilah ini menunjuk pada kebaikan moral. Perintah, “Menyimpang dari jahat dan lakukan yang baik” (Maz. 34:14) jelas perbedaan “baik” dengan moral jahat. “Jalan baik” yang Allah akan mengajarkan umat-Nya yang segan menunjuk pada moral hidup (1Raj. 8:36). “Baik” dan “benar” y`sh`r sering muncul sebagai istilah sejajar untuk kebaikan moral (2Taw. 14:1; 31:20).[28] Dalam Kejadian 2:9, foB dibedakan dengan jahat mempunyai nada tambahan moral : “. . . pohon kehidupan juga di tengah-tengah taman itu, dan pohon pengetahuan baik dan jahat.” Buah pohon ini, jika dimakan, akan menyatakan perbedaan antara moral jahat dan moral “baik.” Referensi ini juga memberi kesan bahwa, melalui makan buah ini, manusia dicoba untuk menentukan bagi dirinya sendiri apa yang “baik” dan yang jahat.[29]
Dari penjelasan mengenai kata foB di atas memiliki beberapa pengertian seperti menyenangkan, sedap atau yang sangat menyenangkan, keindahan, ramah atau bermanfaat, keadaan seseorang atau sesuatu benda, menggambarkan tanah, kecantikan dan moral. Dari beberapa pengertian kata foB, pengertian moral yang dipakai untuk menjelaskan ajaran. Jadi ajaran yang baik maksudnya ajaran yang baik secara moral yang berasal dari ayah. Tanggung jawab seorang ayah adalah memberikan ajaran yang baik secara moral kepada anaknya yang dapat dimengerti oleh pikirannya.
Seorang ayah memiliki tanggung jawab memberi ajaran yang baik kepada anak-anak. Fungsi dan tujuan ajaran atau aturan adalah untuk membuat apa yang boleh dan tidak boleh menjadi jelas. Ajaran atau aturan atau hukum atau tata tertib berfungsi sebagai batasan norma, etika dan sopan santun. Fungsi aturan adalah semacam undang-undang di dalam masyarakat atau negara. Seorang ayah dapat membuat peraturan dengan kerangka atau warna sesuai dengan ajaran Firman Tuhan karena Firman Tuhan adalah hukum dari Tuhan bagi hidup manusia. Ajaran ini akan membuat seorang anak memiliki kedewasaan dan perkembangan emosi dan sosial yang baik.[30] Peraturan yang dibuat harus dilaksanakan secara konsisten, tidak boleh diubah-ubah dengan semena-mena sesuai dengan keinginan seorang ayah karena peraturan yang berubah-ubah akan merusak wibawa seorang ayah sebagai pendidik dan akan dicemooh oleh anak-anak.
Seorang ayah dapat memberikan ajaran melalui permainan atau bermain bersama dengan anak-anak. Bermain adalah kesukaan anak-anak dan anak-anak menambah pengetahuan mereka melalui bermain dan ikut serta dalam permainan tersebut. Sambil bermain, seorang ayah dapat menyampaikan konsep-konsep dan nilai-nilai kehidupan. Oleh karena itu, seorang ayah memilih permainan yang dapat mendidik anak-anak menjadi lebih baik. Penyampaian pengajaran dapat juga dilakukan lewat pemutaran film. Anak-anak menyukai film. Jika anak menyukai tokoh tertentu dalam film tersebut, maka ia mempunyai keinginan yang kuat untuk menjadi seperti tokoh film itu. Oleh karena itu, sangat penting bagi seorang ayah untuk memilih film-film yang memberi pengajaran yang baik bagi anak-anak, film-film yang memasukkan pesan-pesan moral.
KESIMPULAN
Seorang ayah memiliki tanggung jawab terhadap keluarganya terutama pada anaknya. Ada tiga tanggung jawab ayah terhadap anaknya yaitu mengajarkan jalan hikmat (As. 4:11); mendisiplin (Ams. 29:17) dan memberi ajaran yang baik (Ams. 4:2).
KEPUSTAKAAN
Bowling,Andrew. “foB,” dalam Theological Wordbook of the Old Testament vol 1. Disunting oleh R. Laird Harris.Chicago : Moody Press, 1980.
Cloud, Henry dan John Townsend.Faktor Ibu. Disunting oleh Daru Susilowati. Diterjemahkan oleh Efie Shofia Sompie.Batam : Interaksara, t. t.
Gilchrist, Paul R. “y`s^r,” dalam Theological Wordbook of the Old Testament vol 1. Disunting oleh R. Laird Harris.Chicago : Moody Press, 1980.
Goldberg,Louis. “j":<*H,” dalam Theological Wordbook of the Old Testament vol 1. Disunting oleh R. Laird Harris.Chicago : Moody Press, 1980.
Hartley,John E. “y`r`h,” dalam Theological Wordbook of the Old Testament vol 1. Disunting oleh R. Laird Harris.Chicago : Moody Press, 1980.
Kaiser, Walter C. “l\q~j,” dalam Theological Wordbook of the Old Testament vol 1.Disunting oleh R. Laird Harris. Chicago : Moody Press, 1980.
Vine, William Edwy, Merrill Frederick Unger, dan William White Jr. “Father, To Give, Good, To Take Away” dalam Vine’s Complete Expository Dictionary of Old and New Testament Words. Nashville : Thomas Nelson Publishers, 1985.
Waltke,Bruce K. “v@B\f,” dalam Theologial Wordbook of the Old Testament vol 2. Disunting oleh R. Laird Harris. Chicago : Moody Press, 1980.
Wijanarko, Jarot. Mendidik Anak Memotivasi Anak. Jakarta : Suara Pemulihan, 2010.
Wolf, Herbert.“D\r\K,” dalam Theological Wordbook of the Old Testament vol 1. Disunting oleh R. Laird Harris. Chicago : Moody Press, 1980.
[1] William Edwy Vine, Merrill Frederick Unger, dan William White Jr., “Father,” dalam Vine’s Complete Expository Dictionary of Old and New Testament Words (Nashville : Thomas Nelson Publishers, 1985), 78.
[3] John E. Hartley, “y`r`h,” dalam Theological Wordbook of the Old Testament, peny., R. Laird Harris (Chicago : Moody Press, 1980), 1:403.
[4] Herbert Wolf, “D\r\K,” dalam Theological Wordbook of the Old Testament, peny., R. Laird Harris (Chicago : Moody Press, 1980), 1:196-197.
[6]LouisGoldberg, “j":<*H,” dalam Theological Wordbook of the Old Testament, peny., R. Laird Harris (Chicago: Moody Press, 1980), 1:283.
[7]Ibid., 1:283-284.
[8] Paul R. Gilchrist, “y`s^r,” dalam Theological Wordbook of the Old Testament, peny., R. Laird Harris (Chicago : Moody Press, 1980), 1:386-387.
[10]Bruce K. Waltke, “v@B\f,” dalam Theologial Wordbook of the Old Testament, peny., R. Laird Harris (Chicago : Moody Press, 1980), 2:897.
[13] Henry Cloud dan John Townsend, Faktor Ibu, peny., Daru Susilowati, pen., Efie Shofia Sompie (Batam : Interaksara, t. t.), 127.
[15] Henry Cloud dan John Townsend, Faktor Ibu, peny., Daru Susilowati, pen., Efie Shofia Sompie (Batam : Interaksara, t. t.), 127.
[18] W. E. Vine, Merrill F. Unger, dan William White Jr., “To Give,” dalam Vine’s Complete Expository Dictionary of Old and New Testament Words (Nashville : Thomas Nelson Publishers, 1985), 56.
[21]Ibid., 57.
[23] Walter C. Kaiser, “l\q~j,” dalam Theological Wordbook of the Old Testament, peny., R. Laird Harris (Chicago: Moody Press, 1980), 1:482.
[24]Vine, Unger dan White, Jr., “Good,” dalam Vine’s Complete Expository Dictionary of Old and New Testament Words, 99.
[27]Andrew Bowling, “foB,” dalam Theological Wordbook of the Old Testament,peny., R. Laird Harris (Chicago : Moody Press, 1980), 1:345.
[28]Ibid.,1:346.
[29]Vine, Unger dan White, Jr., “Good,” dalam Vine’s Complete Expository Dictionary of Old and New Testament Words, 100.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar